Tradisi Bersinar, Dompet Aman: Strategi Finansial untuk Merayakan Tradisi Tumbilotohe
Oleh Dr. Muh Sabir M,. M.Si
Tradisi Tumbilotohe, yang dalam bahasa Gorontalo berarti “malam pasang lampu”, adalah sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Gorontalo sejak abad ke-15. Dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadan, tradisi ini bertujuan untuk menerangi lingkungan sebagai simbol penyambutan malam Lailatul Qadar dan Idulfitri yang segera tiba. Lampu-lampu minyak tanah atau listrik dipasang di halaman rumah, jalan, dan masjid, menciptakan pemandangan malam yang memukau. Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada aspek keuangan (finansial) yang perlu diperhatikan oleh setiap rumah tangga agar tradisi ini dapat dirayakan tanpa membebani keuangan keluarga.
Tradisi Tumbilotohe tidak hanya memiliki nilai religius dan sosial, tetapi juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Menurut penelitian yang dilakukan di Kelurahan Ipilo, biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tradisi Tumbilotohe mencapai rata-rata Rp 23.500.000,- per kelurahan. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan sekitar 2.000 botol dan minyak tanah sebanyak dua drum, serta kebutuhan lainnya. Partisipasi aktif masyarakat dalam bentuk gotong royong juga menjadi elemen penting dalam tradisi ini (Antuli, 2020). Selain itu, bapak Roni Sampir menyatakan bahwa tradisi Tumbilotohe dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui penjualan bahan baku seperti botol bekas, sumbu lampu, minyak tanah, dan minyak kelapa (Antara News, 2023).
Meskipun tradisi ini membawa dampak positif bagi perekonomian lokal, biaya yang harus dikeluarkan oleh setiap rumah tangga untuk berpartisipasi dalam tradisi Tumbilotohe dapat menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan harga bahan bakar seperti minyak tanah dapat meningkatkan pengeluaran, terutama bagi keluarga dengan pendapatan terbatas. Selain itu, keinginan untuk membuat dekorasi yang lebih meriah dan menarik dapat memicu pengeluaran yang tidak terencana, yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas keuangan rumah tangga.
Merayakan tradisi Tumbilotohe memang menjadi momen istimewa bagi masyarakat Gorontalo, namun tanpa perencanaan yang baik, pengeluaran yang tidak terkontrol bisa membebani keuangan rumah tangga. Oleh karena itu, strategi finansial yang tepat perlu diterapkan agar tradisi ini tetap berjalan dengan semarak tanpa mengganggu kestabilan ekonomi keluarga. Salah satu langkah utama yang perlu dilakukan adalah perencanaan keuangan yang matang sebelum memasuki bulan Suci Ramadhan. Penting bagi setiap keluarga untuk menyusun anggaran khusus agar pengeluaran tetap terkendali, seperti memonitor arus kas masuk dan keluar sehingga dapat mengalokasikan dana secara tepat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tujuan spiritual selama bulan suci ramadhan (Alam et al., 2024)
Menetapkan batas pengeluaran sejak awal dapat membantu menghindari pengeluaran berlebihan yang sering kali terjadi karena euforia perayaan. Namun, banyak keluarga menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan rumah tangga. Rendahnya literasi keuangan, kurangnya pengetahuan tentang perencanaan anggaran, dan kebiasaan konsumtif tanpa perencanaan yang matang sering kali menjadi penyebab utama masalah keuangan (Hasanah et al., 2024). Oleh karena itu, perencanaan anggaran yang baik menjadi langkah penting agar tradisi tetap bisa dirayakan tanpa menimbulkan kesulitan finansial setelah perayaan berakhir.
Selain perencanaan anggaran, pemilihan bahan yang ekonomis dan ramah lingkungan juga menjadi strategi penting dalam merayakan tradisi Tumbilotohe secara bijak. Masyarakat dapat mempertimbangkan penggunaan bahan-bahan lokal yang lebih murah dan mudah didapatkan. Misalnya, minyak kelapa bisa menjadi alternatif bahan bakar untuk lampu tradisional dibandingkan minyak tanah yang harganya cenderung mahal. Selain lebih ekonomis, penggunaan minyak kelapa juga lebih ramah lingkungan dan dapat mendukung industri rumahan (Mongabay, 2015).
Di samping menghemat biaya melalui bahan yang lebih ekonomis, gotong royong dan partisipasi komunitas juga dapat menjadi solusi cerdas untuk mengurangi beban finansial individu. Tradisi Tumbilotohe bukan hanya tentang cahaya yang menerangi malam, tetapi juga tentang kebersamaan dan solidaritas masyarakat. Masyarakat dapat berkontribusi bersama dalam pengadaan lampu, pembuatan dekorasi, dan pemasangan penerangan di lingkungan sekitar. Selain meringankan beban biaya perorangan, kebersamaan ini juga memperkuat ikatan sosial antarwarga. Partisipasi aktif dalam gotong royong menjadi elemen penting dalam pelaksanaan tradisi Tumbilotohe yang memperlihatkan bagaimana nilai kebersamaan dapat berdampak langsung pada efisiensi pengeluaran (Antuli, 2020).
Selain gotong royong, pemanfaatan teknologi dan inovasi juga dapat membantu mengurangi biaya dalam perayaan ini. Penggunaan lampu LED dapat menjadi solusi penerangan yang lebih hemat energi dibandingkan lampu tradisional yang menggunakan minyak tanah atau listrik dengan konsumsi tinggi. Lampu LED tidak hanya lebih terang tetapi juga lebih hemat biaya dalam jangka panjang karena daya tahan yang lebih lama dan konsumsi energi yang rendah. Inovasi lainnya bisa dilakukan dengan mendaur ulang bahan untuk dekorasi, seperti botol bekas atau kaleng yang dapat disulap menjadi lampion yang indah. Dengan memanfaatkan teknologi dan kreativitas, perayaan tradisi Tumbilotohe bisa tetap berlangsung megah tanpa menguras kantong.
Terakhir, edukasi dan kesadaran finansial menjadi kunci utama dalam memastikan pengelolaan keuangan yang sehat selama perayaan tradisi Tumbilotohe. Penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana cara mengatur pengeluaran agar tidak mengorbankan kebutuhan dasar lainnya. Meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat akan membantu mereka lebih bijak dalam menyeimbangkan antara melestarikan tradisi dan menjaga stabilitas finansial keluarga. Dengan pemahaman yang baik tentang pentingnya menabung dan mengelola pengeluaran, masyarakat tidak hanya bisa merayakan tradisi Tumbilotohe dengan meriah, tetapi juga tetap memiliki cadangan finansial untuk kebutuhan setelah Ramadan. Masyarakat dapat tetap menikmati keindahan dan makna dari tradisi Tumbilotohe tanpa harus mengalami tekanan finansial jika menerapkan strategi finansial yang bijak. Perayaan tidak harus mahal untuk menjadi berkesan. Pemilihan bahan yang ekonomis, gotong royong, pemanfaatan teknologi, serta edukasi finansial yang baik, tradisi Tumbilotohe dapat terus bersinar tanpa membebani dompet keluarga. Tradisi ini seharusnya menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan, bukan justru menjadi beban ekonomi bagi mereka yang ingin berpartisipasi di dalamnya. Masyarakat Gorontalo dengan langkah-langkah yang cerdas dapat terus mempertahankan warisan budaya ini secara berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan antara tradisi dan pengelolaan keuangan yang sehat.