February 11, 2026

Resign Massal dan Quiet Quitting: Alarm bagi Sistem Manajemen SDM Kita

0
Desain tanpa judul

Oleh: Abdul Rahman, SE.,MM
Dosen Universitas Muhammadiyah Palu

Apakah perusahaan Anda benar-benar tahu apa yang dirasakan karyawannya? Atau jangan-jangan, diam-diam mereka sudah “mengundurkan diri” jauh sebelum surat resign diajukan?

Fenomena resign massal dan quiet quitting sedang menjadi sorotan di dunia kerja Indonesia. Istilah quiet quitting menggambarkan kondisi ketika karyawan secara diam-diam hanya bekerja “secukupnya” tanpa antusias, tanpa inisiatif, tanpa gairah. Mereka hadir secara fisik, namun “menghilang” secara psikologis. Sementara itu, resign massal, seperti yang terjadi di beberapa perusahaan besar dan startup Tanah Air belakangan ini, menunjukkan bahwa gelombang ketidakpuasan karyawan bukan lagi isu individu, melainkan sudah menjadi masalah sistemik

Mengapa Ini Terjadi di Indonesia?

Indonesia sedang berada dalam era bonus demografi, dengan jumlah generasi muda yang mendominasi pasar kerja. Namun, survei terbaru dari LinkedIn dan Jobstreet di tahun 2024 menunjukkan angka turnover dan tingkat disengagement karyawan di Indonesia berada di atas rata-rata Asia Tenggara. Banyak perusahaan kelabakan menghadapi arus keluar masuk karyawan, bahkan kehilangan talenta terbaik yang susah payah dibina.

Penyebabnya? Sebagian besar karyawan merasa perusahaan tidak benar-benar peduli pada kesejahteraan, pengembangan diri, dan keseimbangan hidup mereka. Banyak budaya kerja masih kaku, komunikasi satu arah, dan menuntut loyalitas tanpa menawarkan makna atau penghargaan yang setimpal. Karyawan akhirnya memilih “pamit” secara diam-diam atau benar-benar pergi.

Alarm Keras untuk Sistem Manajemen SDM

Fenomena ini seharusnya menjadi alarm keras bagi sistem manajemen SDM di Indonesia. Resign massal dan quiet quitting bukan sekadar soal gaji atau fasilitas. Ini tentang kehilangan kepercayaan, komunikasi yang macet, dan kegagalan perusahaan dalam merespons kebutuhan zaman.

Jika perusahaan masih mengelola SDM dengan pola pikir lama menuntut tanpa mendengar, memaksa tanpa memberdayakan maka perusahaan tersebut sedang menggali kubur sendiri. Di era digital seperti sekarang, reputasi perusahaan bisa runtuh hanya karena satu testimoni viral dari karyawan yang kecewa. Lebih parah, perusahaan akan kesulitan menarik dan mempertahankan talenta, terutama generasi Z yang sangat kritis dan berani bersuara.

Saatnya Berbenah: SDM Bukan Sekadar Angka

Perusahaan harus berani melakukan refleksi: apakah sistem manajemen SDM sudah benar-benar adaptif dan humanis? Apakah karyawan diberi ruang untuk berkembang, berpendapat, dan menemukan makna dalam pekerjaannya? Sudahkah well-being mereka diperhatikan, bukan sekadar target output?

Kesejahteraan, komunikasi terbuka, peluang belajar, serta kepemimpinan yang empatik adalah kunci agar karyawan merasa dihargai dan terlibat. Perusahaan yang mampu bertransformasi akan menjadi magnet bagi talenta terbaik, sedangkan yang keras kepala akan terus ditinggalkan.

Penutup: Jangan Tunggu Gelombang Lebih Besar

Fenomena resign massal dan quiet quitting adalah cermin bahwa sistem manajemen SDM kita sedang sakit. Jika dibiarkan, perusahaan atau bahkan Indonesia secara makro akan sulit bersaing di kancah global yang menuntut inovasi dan kolaborasi. Jangan tunggu sampai semua karyawan benar-benar pergi. Mulailah membangun budaya kerja yang sehat dan relevan mulai hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *