February 11, 2026

Refleksi Sumpah Pemuda: Api yang Tak Boleh Padam

0
investa news

Dr. Fatmah M. Ngabito, S.Ip.,M.Si


Sumpah Pemuda bukan sekadar cerita lama yang dibacakan setiap 28 Oktober. Itu adalah tonggak sejarah saat sekelompok anak muda memutuskan untuk berhenti menjadi penonton dan mulai mengambil peran dalam menentukan arah bangsa. Mereka tidak punya fasilitas canggih, tapi mereka punya keberanian, kejujuran, dan tekad yang menyala.

Kini, hampir satu abad kemudian, kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi mengalir deras, teknologi berkembang pesat, tetapi sayangnya nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya bangsa ini mulai tergeser pelan-pelan. Banyak orang lebih sibuk bersaing soal siapa yang paling benar, daripada memikirkan bagaimana membangun bersama. Persatuan makin sering jadi slogan, bukan sikap hidup.

Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti di baliho, upacara, atau unggahan media sosial. Ia seharusnya hadir dalam cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Tanpa itu, semua peringatan tinggal formalitas yang kehilangan makna. Inilah titik kritisnya: bangsa ini bisa kehilangan arah jika semangat pemuda hanya hidup satu hari dalam setahun.

Kita harus jujur mengakui bahwa tantangan hari ini jauh lebih rumit dari masa lalu. Pemuda dulu berjuang melawan penjajah yang jelas terlihat. Pemuda hari ini harus melawan hal-hal yang jauh lebih halus: ketidakpedulian, egoisme, dan kemalasan untuk berpikir kritis. Ini musuh yang tidak berseragam, tapi pelan-pelan menggerogoti semangat kebersamaan.

Sumpah Pemuda bukan milik masa lalu, tapi milik masa depan. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini hanya akan kuat jika pemudanya sadar: perubahan tidak datang dari luar, tapi dari diri sendiri. Persatuan tidak tumbuh dari kata-kata manis, tapi dari tindakan kecil yang jujur dan konsisten.

Refleksi ini bukan untuk menuduh siapa pun, tapi untuk menampar kesadaran kita bersama: Indonesia tidak bisa terus hidup dari kenangan 1928. Api itu harus dijaga. Tidak dengan teriak, tapi dengan tanggung jawab, kejujuran, dan keberanian berpikir jernih di tengah kebisingan.

Selama api itu menyala di hati generasi muda, Indonesia tidak akan hilang arah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *