Banjir Bandang Rusak Akses Jembatan Molamahu, Warga 3 Dusun Terancam Terisolasi
Gorontalo – Banjir bandang kembali menghantam wilayah Desa Molamahu Kabupaten Gorontalo dan menyebabkan kerusakan serius pada badan jalan di sekitar jembatan penghubung Desa Molalahu–Molamahu. Jalur tersebut masih dapat dilalui, namun kondisinya rawan karena terjadi amblas di sisi jalan serta retakan yang berpotensi melebar, terutama saat hujan deras.
Pantauan di lokasi menunjukkan bagian tepi jalan tergerus hingga membentuk lubang besar. Permukaan aspal tampak retak dan sebagian menggantung di beberapa titik, menandakan struktur tanah di bawahnya sudah tidak stabil. Sejumlah pengguna jalan terpaksa melintas pelan dan bergantian, karena ruang aman semakin sempit.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Molamahu, Ismail Side, S.Pd, menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga mengancam keselamatan warga yang setiap hari bergantung pada jalur itu.
“Akses masih bisa dilewati, tapi sudah membahayakan. Kalau hujan deras lagi, kami khawatir terjadi amblas susulan dan putus total,” ujar Ketua BPD
Menurutnya, situasi semakin mengkhawatirkan karena akses alternatif dari arah Desa Ayumolingo telah putus sejak tahun sebelumnya. Artinya, ketika jalur utama Molalahu – Molamahu berada pada kondisi kritis seperti saat ini, warga praktis tidak memiliki jalur cadangan yang layak.
“Jalur dari arah Ayumolingo sudah putus lebih dulu. Kalau jalur utama ini sampai putus total, warga Molamahu terutama di Dusun Tulode, Palebaraya, dan Onggamo berpotensi terisolasi,” katanya.
Ketua BPD menilai kejadian berulang harus dibaca sebagai peringatan bahwa penanganan infrastruktur di wilayah rawan bencana tidak cukup dilakukan secara insidental. Ia meminta pemerintah daerah dan instansi teknis segera melakukan langkah darurat yang jelas, bukan sekadar imbauan kehati-hatian kepada warga.
“Yang dibutuhkan sekarang tindakan cepat: pasang rambu dan pengaman, atur lalu lintas, batasi kendaraan berat, dan segera siapkan penanganan darurat. Jangan tunggu sampai benar-benar putus,” tegasnya.
Selain itu, ia mendorong adanya rencana permanen yang terukur, termasuk penguatan struktur di sekitar jembatan, pengendalian aliran air, perbaikan drainase, dan mitigasi titik-titik rawan gerusan tanah agar kerusakan tidak terus berulang setiap musim hujan. Hingga berita ini diturunkan, jalur Molalahu–Molamahu masih digunakan warga dengan kewaspadaan tinggi, namun masyarakat berharap penanganan segera dilakukan agar risiko putus total dan isolasi wilayah dapat dicegah
